5 Tipe Anak Berkebutuhan Khusus dan Cara Penanganannya

Setelah sang buah hati lahir, pasangan suami istri akan menikmati masa-masa proses tumbuh kembangnya yang menakjubkan. Mulai dari tumbuh gigi, merangkak, berbicara, duduk, sampai berjalan. Asupan gizi buah hati dan sang ibu sangat diperhatikan agar bisa menghasilkan ASI yang berkualitas.

Namun, pertumbuhan anak tidak selamanya sama. Tanpa disadari, mungkin kita diberi kelebihan dengan memiliki anak-anak yang berbeda tumbuh kembangnya dari anak-anak lain. Bahkan sebagian orang tua baru mengetahui anaknya berkebutuhan khusus terlalu lambat sehingga proses tumbuh kembangnya terhambat karena ketidaktahuan cara penanganannya. Ada baiknya kita mengetahui beberapa  jenis anak berkebutuhan khusus dan cara penanganan yang efektif.

anak berkebutuhan khusus

Down Syndrome

Down Syndrome disebabkan oleh kelainan kromosom berupa jumlahnya yang berlebih dari anak pada umumnya. Biasanya setiap anak memiliki dua buah kromosom, sedangkan anak down syndrome memiliki tiga buah. Cirinya bisa diketahui dengan melihat wajahnya seperti orang mongol, disabilitas intelektual, dan  terdapat kelainan pada organ seperti kebocoran jantung atau kelainan pencernaan.

Saat terlihat keterlambatan motorik, orang tua harus langsung melakukan fisioterapi agar anak dapat belajar dan menggerakkan anggota tubuhnya. Juga lakukan terapi wicara jika anak juga mengalami kesulitan berbicara. Terapi okupasi dilakukan untuk menangani disabilitas intelektual dan sekolahkan sang anak di sekolah khusus agar bisa disesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya.

anak autis

Autisme

Autisme bisa dilihat ciri-cirinya saat anak mengalami keterlambatan berbicara. Hal ini disebabkan oleh adanya ganguan yang berat pada spectrum autism. Biasanya anak autis terlihat melakukan gerakan-gerakan aneh dan berbicara dengan bahasa yang mereka ciptakan sendiri. Selain itu, si anak juga melakukan kontak non verbal seperti selalu marah saat meminta sesuatu, tidak bisa melambaikan tangan, dan tidak bisa menunjuk. Anak juga akan menghindari kontak mata dengan orang lain.

Tahap penanganan awal sebaiknya dilakukan sensori integrasi untuk memperbaiki respons stimulus sensori termasuk mendapatkan perhatian sang anak. Jika sudah membaik, lakukan terapi wicara. Sebaiknya juga melakukan terapi okupasi saat terdapat masalah kemandirian seperti tulisannya jelek, susah pakai sepatu, dan tidak bisa mengancingkan baju. Serta lakukanlah fisioterapi jika anak tidak bisa menendang bola.

anak asperger syndrome

Asperger

Asperger memiliki penyebab yang sama dengan autis namun jauh lebih ringan. Ciri yang terlihat adalah berbicara sangat normal, resmi, kaku, dan kekurangan ekspresi mimik muka saat bicara. Selain itu juga terdapat gangguan interaksi sosial seperti hanya berbicara tentang topik yang disukainya saja tanpa memperdulikan lawan bicaranya suka atau tidak. Meskipun begitu, anak ini cerdas dan bisa diajarkan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya tetapi tetap akan terlihat perbedaan dengan anak lainnya.

anak dengan cerebral palsy

Cerebral Palsy

Cerebral Palsy disebabkan oleh kelainan motorik, gerak dan postur (torius postural) karena adanya sebuah kerusakan pada otak di masa perkembangannya yang menyebabkan ketegangan pada otot. Perkembangan otak dini dimulai saat dalam kandungan sampai dengan tahun pertama usia anak.

Kemungkinan lainnya adalah saat hamil mengalami sakit tetapi tidak terdeteksi. Bisa juga karena terlilit tali pusar saat melahirkan, pecah ketuban terlalu dini, panas saat proses melahirkan, tensi tinggi, kejang-kejang, atau saat lahir bayi tidak menangis.

Penanganannya bisa dilakukan dengan cara fisioterapi, yaitu dengan cara mengajarkan bergerak pada pola gerak sebaik mungkin sesuai dengan keterbatasannya, sensori integrasi, dan terapi wicara untuk bicara dan oromotorinya.

anak adhd

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Penyebabnya karena adanya gangguan di otak yang disebabkan oleh ketidakseimbangan kimia sehingga otak kekurangan zat neurotransimitter untuk aktivasi. Sehingga si anak tidak bisa fokus pada suatu hal.

Penanganannya bisa menggunakan obat untuk menyeimbangkan neurotransmitter di otak dan bisa juga dilakukan terapi perilaku dahulu. Selain itu juga bisa dilakukan terapi sensori integrasi dan okupasi.